Sabtu, 16 Februari 2008

Space & Place pada Arsitektur Nusantara

Manusia nusantara berkelompok-berkelompok dan bersama-sama hidup berbaur dengan alam, baik alam tersebut berupa daratan yang mereka tempati, sungai, langit maupun alam semesta secara luas. Dalam menjalani kehidupan tersebut, manusia berupaya untuk bisa tetap eksis mempertahankan keberadaan mereka dan mewariskan kehidupannya kepada anak cucu di kemudian hari. Untuk itu, manusia terus belajar untuk dapat bersahabat dengan alam, makhluk-makhluk atau benda-benda lain yang berada di sekitar mereka. Dalam menjalani kehidupannya, mereka terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Awal Mula Space & Place
Ketika manusia nusantara menempati sebuah space/ruang yang belum bernama, manusia tersebut membuat naungan untuk melindungi diri dari hujan sesuai dengan iklim nusantara yang tropis. Selain itu manusia juga melindungi api dari hujan, angin dan kelembaban tanah dengan membuat shelter (pelindung). Mereka melindungi api karena api merupakan alat bagi mereka agar bisa tetap hidup, untuk menghangatkan suhu di malam hari dan mengolah makanan.

Dengan adanya perlindungan dan pernaungan terhadap manusia dan api, maka manusia dapat menjalani kehidupannya di tengah alam yang mereka diami, itulah yang kemudian dinamakan sebagai place/tempat dalam arsitektur. Seorang geografer bernama Yi Fu Tuan menyebutkan bahwa tempat menjadi eksis ketika manusia memberikan makna pada sebagian dari ruang yang lebih besar. Ketika sebagian ruang dari ruang yang lebih besar di sebuah lokasi diberi nama atau diidentifikasi, maka ruang yang telah bernama itu menjadi sebuah tempat.

Photobucket


Place for Dwelling
Manusia mulai menetap di sebuah lokasi dan hidup di tempat tersebut di waktu yang lama, konsep tempat untuk melindungi dan mengelola kemudian berubah. Kelompok masyarakat mulai memaknai sebuah tempat untuk dihuni atau ditinggali. Masyarakat yang mulai menghuni sebuah tempat kemudian memiliki identitas sebagai masyarakat penghuni tempat tersebut. Mereka sekarang memerlukan eksistensi sebagai sebuah kelompok, juga bahasa dan simbol dari kelompok penghuni tersebut.
Konsep tempat sebagai perlindungan dan pernaungan terhadap api menjadi terasa kurang pas karena mereka sekarang memerlukan tempat lain untuk berkumpul. Karena itulah makna tempat menjadi lebih luas menjadi:

1.Tempat mempertahankan api
2.Tempat untuk berkumpul dengan naungan
3.Tempat untuk berkumpul di luar bangunan/tanpa naungan

Hal inilah yang kemudian disebut sebagai konsep komposisi tertua dari pembentukan ruang, tempat dan bentuk pada arsitektur nusantara.
Setelah menghuni sebuah tempat, maka manusia memiliki konsekuensi sehubungan dengan tempat tersebut, yaitu:

1.Perlu memiliki ilmu tentang arah/orientasi sehingga mereka dapat kembali pada tempat asal yang mereka huni.
2.Mereka menjadikan tempat hunian kelompok masyarakat mereka sebagai titik nol atau titik awal dari aktivitas-aktivitas mereka. Mereka telah memiliki tempat pulang karena memutuskan ntuk tidak lagi nomaden.
3.Tempat yang satu dengan tempat yang lain dapat digunakan untuk mengidentifikasi “di sini” dan “di sana” sehingga memerlukan atribut untuk mengenali tempat yang satu dan yang lain.

Sense of Place
Sekelompok masyarakat yang telah menetap berarti juga mulai memiliki berbagai macam jenis tempat di dalam lingkungan kelompoknya. Selain itu, mereka kini juga harus hidup berdampingan dengan lingkungan sekitarnya dengan lebih permanen. Artinya mereka harus mengenali ciri-ciri dari lingkungan tempat mereka tinggal. Panas, hujan, badai, atau gempa adalah sesuatu yang harus mereka hadapi karena mereka memilih untuk menetap. Selain dengan pengetahuan, mereka mulai mengerti bahwa ada peran Yang Maha Kuasa pada fenomena-fenomena alam yang mereka hadapi. Pada awalnya mereka mempersepsikan bahwa badai muncul karena Dewa marah dan musim panen muncul karana Dewa bermurah hati. Karena itulah manusia melakukan upacara-upacara sebagai upaya unuk menyenangkan hati Dewa. Mereka mulai memiliki tempat untuk berkumpul dan melakukan upacara tersebut.

Manusia mulai memiliki berbagai jenis tempat untuk berbagai aktivitas. Karena itulah manusia mulai bisa memberikan nilai pada tempat yang satu dan juga tempat yang lain. Tempat yang digunakan untuk beribadah dianggap sebagai tempat yang bernilai tinggi/suci. Kemampuan untuk merasakan nilai dari sebuah tempat itulah yang disebut sebagai “Sense of Place”.

Photobucket

Gambar di atas adalah contoh pembagian tempat pada masyarakat tradisional Bali. Terdapat halaman tengah yang terbebas dari tumbuhan kecuali bunga kamboja. Ada Pura keluarga di pojok timur komplek bangunan, menunjukkan tempat paling tinggi, dengan tempat tidur utama di sebelahnya agar manusia dekat dengan tempat ibadah.

Penyatuan dengan Alam
Konsep space & place pada arsitektur nusantara terus berkembang secara alamiah seiring dengan kebutuhan hidup manusia nusantara untuk bisa eksis hidup menyatu dengan alam semesta. Manusia menjalani hidup sehari-hari bersama alam sehingga perkembangan space & place akan dapat terus berlangsung secara bersamaan dengan keberlangsungan alam semesta baik secara lokal maupun secara keseluruhan.


Bacaan
Dinapradipta, Asri. Materi Kuliah Arsitektur Nusantara Program Pascasarjana Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya
Prijotomo, Josef. Arsitektur Nusantara: Menuju Keniscayaan
Tjahyono, Gunawan, dkk. Indonesia Heritage: Architecture

1 komentar:

AMZMA mengatakan...

baca dulu om :maluL

 
AddMe - Search Engine Optimization