Sabtu, 16 Februari 2008

Kosmologi dan Arsitekur Nusantara

Kelompok Manusia yang Menetap
Pada mulanya, manusia hidup nomaden. Setelah berkelompok, manusia mulai menetap di satu tempat. Hal ini terjadi juga pada nenek moyang manusia Nusantara. Pada awalnya mereka secara berkelompok menetap lama dan pindah ke tempat lain jika alam tidak lagi bersahabat. Namun seiring dengan pemahaman mereka tentang alam yang semakin dalam, manusia kemudian bisa beradaptasi dengan alam tempat tinggalnya dan benar-benar mendiami suatu daerah / tempat tertentu. Ketika mendiami tempat tersebut, manusia mulai membuat perlindungan. Awalnya adalah untuk menjaga api agar bisa tetap menyala dan bisa digunakan sebagai alat untuk hidup (memasak, menjaga suhu agar tetap hangat di malam hari, dan lain sebagainya). Api perlu diberi tempat pernaungan agar tidak padam tertiup angin kencang atau tersiram air hujan.

Kosmos dan Kosmologi
Di sinilah manusia Nusantara mulai berusaha untuk mengenal dan bersahabat dengan alam dengan cara kerja dan ciri-cirinya, yang juga disebut sebagai kosmos. “Kosmos, dalam pengertian yang paling umum, adalah suatu sistem yang teratur atau berada dalam harmoni. Berasal dari kata bahasa Yunani κόσμος yang berarti "keteraturan, susunan yang teratur, hiasan", kosmos merupakan konsep antitesis dari khaos. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama1”. Secara prinsip, jika kelompok manusia memahami kosmologi, maka mereka akan dapat hidup bersahabat dengan alam. Yang dimaksud dengan alam di sini adalah alam fisik dan non fisik. Secara keseluruhan, kelompok manusia jaman dulu memahami bahwa kejadian fisik (perubahan cuaca, arah angin, badai, gunung meletus, dan sebagainya) berkaitan dengan Dewa-Dewa. Jika Dewa marah akan terjadi badai dan gunung meletus, dan jika Dewa bermurah hati, maka cuaca akan cerah dan tanaman yang mereka tanam akan cepat menuai panen. Secara naluriah manusia mempelajari alam sekitarnya dan mengaitkan yang fisik (sains alam, perubahan musim, arah angin, mata angin, dll) dengan yang non fisik (agama, spiritualitas). Hal ini kemudian menjadi salah satu sebab tumbuhnya kebudayaan di kalangan kelompok manusia di sebuah wilayah, termasuk juga pada kelompok masyarakat di yang hidup di Nusantara.

Kosmologi dan Arsitektur Nusantara
Salah satu dari hasil kebudayaan sebagai upaya masyarakat Nusantara dalam bersahabat dengan alam tempat hidupnya adalah berupa lingkungan arsitektur. Mendiami sebuah wilayah berarti juga mendesain dan mendirikan bangunan tempat mereka menjalani kehidupan. Setelah membuat tempat untuk melindungi api, kelompok manusia tersebut mulai membuat bangunan untuk tempat tinggal dan tempat ibadah. Hingga lalu mereka mendirikan bangunan pemerintahan. Masyarakat Nusantara menyesuaikan arsitektur yang dirancangnya dengan alam dan kepercayaan yang mereka anut.
Sebagai contoh penerapan masyarakat Nusantara dalam merancang lingkungan arsitekturnya dengan menggunakan kosmologi di antaranya; “Arsitektur Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan memengaruhi tata ruangnya, diantaranya adalah Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala, keseimbangan Kosmologi, Manik Ring Cucupu, hirarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga, dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia2”. “Di Jawa Tengah, nilai rancang bangunan dicocokkan dengan rumus Petung Pawukon yakni pengetahuan kosmologi Jawa, Angsar atau Kawruh Kalang yaitu tata-nilai mistis arsitektur Jawa. Masyarakat mempelajari daya prana tubuh manusia dalam bentuk olahraga tenaga dalam. Bagi yang mempelajari kosmologi kuno, menganggap bahwa bumi dan angkasa memiliki pelbagai daya prana atau energi gaib. Arsitektur sebagai lingkungan ciptaan manusia dianggap perlu berkontekstualisasi dengan fenomena alam tersebut3”. Pemikiran kosmologi diekspresikan dalam Arsitektur Nusantara, baik dalam tata letak (site plan), orientasi, konstruksi, material bangunan, detail, ornamen dan aspek-aspek arsitektur lainnya.

Photobucket
Contoh lain dari penerapan kosmologi pada Arsitektur Nusantara adalah tata letak desa adat di daerah Toraja. “Tata-letak desa adat Toraja berjejer berhadapan membentuk halaman pemersatu di tengah. Pola ini identik dengan cukup banyak arsitektur tradisional dan bahkan yang primitif, di banyak tempat di dunia ini.
Halaman semacam ini terbentuk oleh naluri kelompok masyarakat untuk menjadi tempat berkumpul, melangsungkan upacara, bekerja, bermain dan aktifitas sosial lainnya. Dari segi tata-letak tersebut maka teori menyatunya manusia dengan manusia, manusia dengan dalam arsitektur alam juga jagad raya, pada tata-letak kompleks kampung atau desa adat Toraja adalah nyata4”.

Prinsip Kosmologi dalam Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara
Dalam perkembangannya, Arsitektur Nusantara sebagai sebuah ilmu pengetahuan memungkinkan bagi arsitek-arsitek masa kini untuk melakukan penelaahan dan eksplorasi agar Arsitektur Nusantara bisa semakin berkembang dan terus up to date seiring dengan perkembangan zaman. “Penguasaan pengetahuan tentang tafsir/interpretasi merupakan kemutlakan untuk mengungkap pengetahuan itu5”. Prinsip kosmologi dalam Arsitektur Nusantara termasuk ke dalam prinsip yang bisa terus digali dan di eksplorasi lebih dalam sehingga arsitek mampu mengembangkan kreativitas sekaligus menghadirkan “rasa” Nusantara pada karya Arsitektur yang dirancangnya.



Bacaan

Prijotomo, Josef, Arsitektur Nusantara Menuju Keniscayaan
Sumalyo, Yulianto, Kosmologi dalam Arsitektur Toraja
Dinapradipta, Asri, Catatan Kuliah Arsitektur Nusantara
http://id.wikipedia.org, 5 November 2007, 15:52
http://www.arsitekturindis.com, 5 November 2007, 16:17

Tidak ada komentar:

 
AddMe - Search Engine Optimization