
Namanya Arsitektur Nusantara
Mendengar kata Arsitektur Nusantara, maka pertama-tama kita akan diajak untuk mengupas makna dari masing-masing kata yang terdapat di dalamnya, yaitu Arsitektur dan Nusantara. Makna Arsitektur, menurut Romo Mangun, adalah Guna dan Citra. Yaitu bangunan yang tidak sekedar fungsi, namun juga mengandung citra, nilai-nilai, status, pesan dan emosi yang disampaikannya. Menurut Josef Prijotomo, arsitektur adalah karya dan cipta manusia dengan langsung dikendalikan kehadirannya oleh manusia penciptanya di satu sisi dan dikondisikan kehadirannya oleh tempat saat. Sementara untuk kata Nusantara, yang menjadi pertanyaan awal adalah; kenapa dia bernama Arsitektur Nusantara? Kenapa tidak dinamai arsitektur tradisional atau Arsitektur Indonesia? Untuk membahas hal ini mari kita bahas satu persatu
Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam yang tersebar di seluruh wilayahnya yang berupa kepulauan. Dan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan juga belum memiliki identitas arsitektur kenegaraan. Yang ada adalah arsitektur yang beraneka ragam di masing-masing wilayah kepulauannya. Kata nusantara terbentuk dari nusa (pulau) dan antara, yang artinya adalah kepulauan, antar pulau. Karena itulah namanya bukan Arsitektur Indonesia.
Sementara, arsitektur tradisional adalah arsitektur yang berasal dari tradisi/ adat istiadat yang berlaku di masing-masing wilayah. Penggunaan istilah arsitektur tradisional memiliki konsekuensi, yaitu penggunaannya harus sesuai dengan peraturan tradisi yang berlaku di sebuah wilayah atau suku bangsa. Hal ini mengakibatkan arsitektur tidak memiliki kesempatan untuk berkembang dan arsitektur hanya menjadi romantisme masa lalu. Arsitektur tradisional adalah obyek studi bagi domain sejarah maupun antropologi karena mempelajari bagaimana manusia-manusia di sebuah wilayah atau suku bangsa berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara dalam domain arsitektur sendiri, yang dipelajari adalah seni bangunan termasuk dengan dasar-dasar pemikiran, estetika, juga kemungkinan pengembangan ide di masa depan dengan tetap berakar pada filosofi awal yang terdalam. Hal inilah yang melahirkan Arsitektur Nusantara. Arsitektur yang bertuan rumah di wilayah nusantara, dihidupkan oleh masyarakat nusantara dan menghidupi mereka dari waktu ke waktu.
Lebih lanjut bisa kita simak kutipan dari Josef Prijotomo dalam tulisannya Globalisasi dan Arsitektur Nusantara: Arsitektur Nusantara memang bukanlah arsitektur tradisional, walaupun keduanya menujuk pada sosok arsitektur yang sama yakni arsitektur yang ditumbuhkembangkan oleh demikian banyak anak bangsa atau suku bangsa di Indonesia ini. Arsitektur Nusantara dibangun sebagai sebuah pengetahuan yang dilandaskan dan dipangkalkan dari filsafat, ilmu dan pengetahuan arsitektur.
Arsitektur Nusantara sebagai Ilmu Pengetahuan
Dengan terbukanya pintu gerbang eksplorasi bagi arsitektur nusantara, maka semakin banyak hal yang bisa digali darinya, juga semakin banyak arsitek yang diundang untuk semakin mengenalnya. Arsitektur nusantarapun terbuka sebagai ilmu pengetahuan yang akan selalu digali dan dikembangkan sehingga nantinya bisa diaplikasikan langsung ke dalam perancangan dan kehadirannya bisa dirasakan oleh masyarakat. “Arsitektur sebagai ilmu pengetahuan tidak lagi berada dalam paras hafalan yang setiap dilafalkan kembali; arsitektur lalu menjadi pertanyaan dan tantangan yang selalu menunggu jawaban dan tanggapan”, begitu kata Josef Prijotomo.
Arsitektur Nusantara sebagai Simbol Kosmologis
Kekhasan bentuk dan tatanan di masing-masing wilayah arsitektur nusantara bukanlah tanpa dasar tanpa makna, melainkan berasal dari perkembangan pemikiran manusia yang hidup di tengah-tengah alam. Arsitektur Nusantara sendiri awalnya adalah arsitektur pernaungan, yaitu untuk menaungi masyarakat dari panas dan hujan, selain itu juga untuk menjaga api. Sementara menurut Romo Mangun, wujud bangunan memiliki beberapa citra dasar yang selalu kembali dalam berbagai macam bentuk, misalnya bentukan gunung yang muncul pada candi-candi di Jawa dan pintu-pintu gerbang di Bali. Juga bentuk pohon, stupa, pagoda atau poros pokok Pusat Dunia masih mendapat pengungkapannya dala m bentuk bait-bait, kuil-kuil keramat ataupun istana dan kota-kota suci . Arsitektur Nusantara sendiri adalah simbol dari upaya masyarakat untuk bisa survive di tengah alam tempatnya berada dengan ciri-ciri kosmiknya. Hal ini juga yang menyebabkan Arsitektur Nusantara terbuka bagi perkembangan teknologi sebagai upayanya untuk menyatu dengan kosmologi alam semesta.
Perkenalan: Sebuah Awal
Perkenalan adalah awal dari interaksi lebih lanjut dengan Arsitektur Nusantara. Sebagaimana disebutkan di atas, pintu untuk mengeksplorasi, mempertanyakan, menggali, dan mengutak-atik Arsitektur Nusantara telah terbuka lebar. Tentu saja semua diawali dari pemahaman yang mendalam tentang makna dari Arsitektur Nusantara itu sendiri sebelum berkembang ke dalam aplikasi bahkan globalisasi. Ya, terbuka lebar kesempatan untuk mengglobalkan Arsitektur Nusantara di lingkup yang lebih luas dan bukan hanya arsitekur luar yang menjamur di wilayah nusantara. Namun itu semua dibebaskan pada pilihan masing-masing. Baik peneliti maupun arsitek memiliki kesempatan yang luas dalam berinteraksi dengan Arsitektur Nusantara pasca perkenalan.
“Do not go where the path may lead,
Go instead where there is no path and leave a trail”
(Ralph Waldo Emerson)
Bacaan
Prijotomo, Josef. Arsitektur Nusantara: Menuju Keniscayaan
Mangunwijaya, YB. Wastu Citra
Dinapradipta, Asri. Materi Kuliah Arsitektur Nusantara Program Pascasarjana Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar