Sabtu, 16 Februari 2008

Kosmologi dan Arsitekur Nusantara

Kelompok Manusia yang Menetap
Pada mulanya, manusia hidup nomaden. Setelah berkelompok, manusia mulai menetap di satu tempat. Hal ini terjadi juga pada nenek moyang manusia Nusantara. Pada awalnya mereka secara berkelompok menetap lama dan pindah ke tempat lain jika alam tidak lagi bersahabat. Namun seiring dengan pemahaman mereka tentang alam yang semakin dalam, manusia kemudian bisa beradaptasi dengan alam tempat tinggalnya dan benar-benar mendiami suatu daerah / tempat tertentu. Ketika mendiami tempat tersebut, manusia mulai membuat perlindungan. Awalnya adalah untuk menjaga api agar bisa tetap menyala dan bisa digunakan sebagai alat untuk hidup (memasak, menjaga suhu agar tetap hangat di malam hari, dan lain sebagainya). Api perlu diberi tempat pernaungan agar tidak padam tertiup angin kencang atau tersiram air hujan.

Kosmos dan Kosmologi
Di sinilah manusia Nusantara mulai berusaha untuk mengenal dan bersahabat dengan alam dengan cara kerja dan ciri-cirinya, yang juga disebut sebagai kosmos. “Kosmos, dalam pengertian yang paling umum, adalah suatu sistem yang teratur atau berada dalam harmoni. Berasal dari kata bahasa Yunani κόσμος yang berarti "keteraturan, susunan yang teratur, hiasan", kosmos merupakan konsep antitesis dari khaos. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama1”. Secara prinsip, jika kelompok manusia memahami kosmologi, maka mereka akan dapat hidup bersahabat dengan alam. Yang dimaksud dengan alam di sini adalah alam fisik dan non fisik. Secara keseluruhan, kelompok manusia jaman dulu memahami bahwa kejadian fisik (perubahan cuaca, arah angin, badai, gunung meletus, dan sebagainya) berkaitan dengan Dewa-Dewa. Jika Dewa marah akan terjadi badai dan gunung meletus, dan jika Dewa bermurah hati, maka cuaca akan cerah dan tanaman yang mereka tanam akan cepat menuai panen. Secara naluriah manusia mempelajari alam sekitarnya dan mengaitkan yang fisik (sains alam, perubahan musim, arah angin, mata angin, dll) dengan yang non fisik (agama, spiritualitas). Hal ini kemudian menjadi salah satu sebab tumbuhnya kebudayaan di kalangan kelompok manusia di sebuah wilayah, termasuk juga pada kelompok masyarakat di yang hidup di Nusantara.

Kosmologi dan Arsitektur Nusantara
Salah satu dari hasil kebudayaan sebagai upaya masyarakat Nusantara dalam bersahabat dengan alam tempat hidupnya adalah berupa lingkungan arsitektur. Mendiami sebuah wilayah berarti juga mendesain dan mendirikan bangunan tempat mereka menjalani kehidupan. Setelah membuat tempat untuk melindungi api, kelompok manusia tersebut mulai membuat bangunan untuk tempat tinggal dan tempat ibadah. Hingga lalu mereka mendirikan bangunan pemerintahan. Masyarakat Nusantara menyesuaikan arsitektur yang dirancangnya dengan alam dan kepercayaan yang mereka anut.
Sebagai contoh penerapan masyarakat Nusantara dalam merancang lingkungan arsitekturnya dengan menggunakan kosmologi di antaranya; “Arsitektur Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan memengaruhi tata ruangnya, diantaranya adalah Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala, keseimbangan Kosmologi, Manik Ring Cucupu, hirarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga, dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia2”. “Di Jawa Tengah, nilai rancang bangunan dicocokkan dengan rumus Petung Pawukon yakni pengetahuan kosmologi Jawa, Angsar atau Kawruh Kalang yaitu tata-nilai mistis arsitektur Jawa. Masyarakat mempelajari daya prana tubuh manusia dalam bentuk olahraga tenaga dalam. Bagi yang mempelajari kosmologi kuno, menganggap bahwa bumi dan angkasa memiliki pelbagai daya prana atau energi gaib. Arsitektur sebagai lingkungan ciptaan manusia dianggap perlu berkontekstualisasi dengan fenomena alam tersebut3”. Pemikiran kosmologi diekspresikan dalam Arsitektur Nusantara, baik dalam tata letak (site plan), orientasi, konstruksi, material bangunan, detail, ornamen dan aspek-aspek arsitektur lainnya.

Photobucket
Contoh lain dari penerapan kosmologi pada Arsitektur Nusantara adalah tata letak desa adat di daerah Toraja. “Tata-letak desa adat Toraja berjejer berhadapan membentuk halaman pemersatu di tengah. Pola ini identik dengan cukup banyak arsitektur tradisional dan bahkan yang primitif, di banyak tempat di dunia ini.
Halaman semacam ini terbentuk oleh naluri kelompok masyarakat untuk menjadi tempat berkumpul, melangsungkan upacara, bekerja, bermain dan aktifitas sosial lainnya. Dari segi tata-letak tersebut maka teori menyatunya manusia dengan manusia, manusia dengan dalam arsitektur alam juga jagad raya, pada tata-letak kompleks kampung atau desa adat Toraja adalah nyata4”.

Prinsip Kosmologi dalam Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara
Dalam perkembangannya, Arsitektur Nusantara sebagai sebuah ilmu pengetahuan memungkinkan bagi arsitek-arsitek masa kini untuk melakukan penelaahan dan eksplorasi agar Arsitektur Nusantara bisa semakin berkembang dan terus up to date seiring dengan perkembangan zaman. “Penguasaan pengetahuan tentang tafsir/interpretasi merupakan kemutlakan untuk mengungkap pengetahuan itu5”. Prinsip kosmologi dalam Arsitektur Nusantara termasuk ke dalam prinsip yang bisa terus digali dan di eksplorasi lebih dalam sehingga arsitek mampu mengembangkan kreativitas sekaligus menghadirkan “rasa” Nusantara pada karya Arsitektur yang dirancangnya.



Bacaan

Prijotomo, Josef, Arsitektur Nusantara Menuju Keniscayaan
Sumalyo, Yulianto, Kosmologi dalam Arsitektur Toraja
Dinapradipta, Asri, Catatan Kuliah Arsitektur Nusantara
http://id.wikipedia.org, 5 November 2007, 15:52
http://www.arsitekturindis.com, 5 November 2007, 16:17

Space & Place pada Arsitektur Nusantara

Manusia nusantara berkelompok-berkelompok dan bersama-sama hidup berbaur dengan alam, baik alam tersebut berupa daratan yang mereka tempati, sungai, langit maupun alam semesta secara luas. Dalam menjalani kehidupan tersebut, manusia berupaya untuk bisa tetap eksis mempertahankan keberadaan mereka dan mewariskan kehidupannya kepada anak cucu di kemudian hari. Untuk itu, manusia terus belajar untuk dapat bersahabat dengan alam, makhluk-makhluk atau benda-benda lain yang berada di sekitar mereka. Dalam menjalani kehidupannya, mereka terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Awal Mula Space & Place
Ketika manusia nusantara menempati sebuah space/ruang yang belum bernama, manusia tersebut membuat naungan untuk melindungi diri dari hujan sesuai dengan iklim nusantara yang tropis. Selain itu manusia juga melindungi api dari hujan, angin dan kelembaban tanah dengan membuat shelter (pelindung). Mereka melindungi api karena api merupakan alat bagi mereka agar bisa tetap hidup, untuk menghangatkan suhu di malam hari dan mengolah makanan.

Dengan adanya perlindungan dan pernaungan terhadap manusia dan api, maka manusia dapat menjalani kehidupannya di tengah alam yang mereka diami, itulah yang kemudian dinamakan sebagai place/tempat dalam arsitektur. Seorang geografer bernama Yi Fu Tuan menyebutkan bahwa tempat menjadi eksis ketika manusia memberikan makna pada sebagian dari ruang yang lebih besar. Ketika sebagian ruang dari ruang yang lebih besar di sebuah lokasi diberi nama atau diidentifikasi, maka ruang yang telah bernama itu menjadi sebuah tempat.

Photobucket


Place for Dwelling
Manusia mulai menetap di sebuah lokasi dan hidup di tempat tersebut di waktu yang lama, konsep tempat untuk melindungi dan mengelola kemudian berubah. Kelompok masyarakat mulai memaknai sebuah tempat untuk dihuni atau ditinggali. Masyarakat yang mulai menghuni sebuah tempat kemudian memiliki identitas sebagai masyarakat penghuni tempat tersebut. Mereka sekarang memerlukan eksistensi sebagai sebuah kelompok, juga bahasa dan simbol dari kelompok penghuni tersebut.
Konsep tempat sebagai perlindungan dan pernaungan terhadap api menjadi terasa kurang pas karena mereka sekarang memerlukan tempat lain untuk berkumpul. Karena itulah makna tempat menjadi lebih luas menjadi:

1.Tempat mempertahankan api
2.Tempat untuk berkumpul dengan naungan
3.Tempat untuk berkumpul di luar bangunan/tanpa naungan

Hal inilah yang kemudian disebut sebagai konsep komposisi tertua dari pembentukan ruang, tempat dan bentuk pada arsitektur nusantara.
Setelah menghuni sebuah tempat, maka manusia memiliki konsekuensi sehubungan dengan tempat tersebut, yaitu:

1.Perlu memiliki ilmu tentang arah/orientasi sehingga mereka dapat kembali pada tempat asal yang mereka huni.
2.Mereka menjadikan tempat hunian kelompok masyarakat mereka sebagai titik nol atau titik awal dari aktivitas-aktivitas mereka. Mereka telah memiliki tempat pulang karena memutuskan ntuk tidak lagi nomaden.
3.Tempat yang satu dengan tempat yang lain dapat digunakan untuk mengidentifikasi “di sini” dan “di sana” sehingga memerlukan atribut untuk mengenali tempat yang satu dan yang lain.

Sense of Place
Sekelompok masyarakat yang telah menetap berarti juga mulai memiliki berbagai macam jenis tempat di dalam lingkungan kelompoknya. Selain itu, mereka kini juga harus hidup berdampingan dengan lingkungan sekitarnya dengan lebih permanen. Artinya mereka harus mengenali ciri-ciri dari lingkungan tempat mereka tinggal. Panas, hujan, badai, atau gempa adalah sesuatu yang harus mereka hadapi karena mereka memilih untuk menetap. Selain dengan pengetahuan, mereka mulai mengerti bahwa ada peran Yang Maha Kuasa pada fenomena-fenomena alam yang mereka hadapi. Pada awalnya mereka mempersepsikan bahwa badai muncul karena Dewa marah dan musim panen muncul karana Dewa bermurah hati. Karena itulah manusia melakukan upacara-upacara sebagai upaya unuk menyenangkan hati Dewa. Mereka mulai memiliki tempat untuk berkumpul dan melakukan upacara tersebut.

Manusia mulai memiliki berbagai jenis tempat untuk berbagai aktivitas. Karena itulah manusia mulai bisa memberikan nilai pada tempat yang satu dan juga tempat yang lain. Tempat yang digunakan untuk beribadah dianggap sebagai tempat yang bernilai tinggi/suci. Kemampuan untuk merasakan nilai dari sebuah tempat itulah yang disebut sebagai “Sense of Place”.

Photobucket

Gambar di atas adalah contoh pembagian tempat pada masyarakat tradisional Bali. Terdapat halaman tengah yang terbebas dari tumbuhan kecuali bunga kamboja. Ada Pura keluarga di pojok timur komplek bangunan, menunjukkan tempat paling tinggi, dengan tempat tidur utama di sebelahnya agar manusia dekat dengan tempat ibadah.

Penyatuan dengan Alam
Konsep space & place pada arsitektur nusantara terus berkembang secara alamiah seiring dengan kebutuhan hidup manusia nusantara untuk bisa eksis hidup menyatu dengan alam semesta. Manusia menjalani hidup sehari-hari bersama alam sehingga perkembangan space & place akan dapat terus berlangsung secara bersamaan dengan keberlangsungan alam semesta baik secara lokal maupun secara keseluruhan.


Bacaan
Dinapradipta, Asri. Materi Kuliah Arsitektur Nusantara Program Pascasarjana Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya
Prijotomo, Josef. Arsitektur Nusantara: Menuju Keniscayaan
Tjahyono, Gunawan, dkk. Indonesia Heritage: Architecture

Kamis, 14 Februari 2008

Kenalan sama Arsitektur Nusantara

Di era informasi di mana informasi bisa menyebar dengan mudah tanpa menghiraukan batas geografi, maka efek globalisasi jelas terasa pada arsitektur. Perkembangan dunia perancangan arsitektur di Indonesiapun tidak lepas dari pengaruh globalisasi, di mana banyak style arsitektur “internasional” yang diterapkan pada bangunan-bangunan di Indonesia. Di tengah fenomena tersebut, sangat alami jika masyarakat juga mulai bertanya-tanya tentang identias aslinya. Siapa saya? Apakah saya sama dengan orang-orang di barat sana? Atau sama dengan orang Jepang? Kutub utara dan sebagainya? Lantas apa yang membedakan saya dengan mereka? Orang mulai mencari identitas dirinya dengan menggali kembali pemikiran-pemikiran masa lalu beserta perkembangannya hingga ke masa kini juga prospeknya ke depan. Begitu juga yang terjadi dengan arsitektur Nusantara. Saya sendiri termasuk yang ingin berkenalan dengan arsitektur di tanah air saya sendiri di tengah serbuan informasi maupun keberadaan dari arsitektur “internasional”.

What Is NA

Namanya Arsitektur Nusantara
Mendengar kata Arsitektur Nusantara, maka pertama-tama kita akan diajak untuk mengupas makna dari masing-masing kata yang terdapat di dalamnya, yaitu Arsitektur dan Nusantara. Makna Arsitektur, menurut Romo Mangun, adalah Guna dan Citra. Yaitu bangunan yang tidak sekedar fungsi, namun juga mengandung citra, nilai-nilai, status, pesan dan emosi yang disampaikannya. Menurut Josef Prijotomo, arsitektur adalah karya dan cipta manusia dengan langsung dikendalikan kehadirannya oleh manusia penciptanya di satu sisi dan dikondisikan kehadirannya oleh tempat saat. Sementara untuk kata Nusantara, yang menjadi pertanyaan awal adalah; kenapa dia bernama Arsitektur Nusantara? Kenapa tidak dinamai arsitektur tradisional atau Arsitektur Indonesia? Untuk membahas hal ini mari kita bahas satu persatu
Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam yang tersebar di seluruh wilayahnya yang berupa kepulauan. Dan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan juga belum memiliki identitas arsitektur kenegaraan. Yang ada adalah arsitektur yang beraneka ragam di masing-masing wilayah kepulauannya. Kata nusantara terbentuk dari nusa (pulau) dan antara, yang artinya adalah kepulauan, antar pulau. Karena itulah namanya bukan Arsitektur Indonesia.

Sementara, arsitektur tradisional adalah arsitektur yang berasal dari tradisi/ adat istiadat yang berlaku di masing-masing wilayah. Penggunaan istilah arsitektur tradisional memiliki konsekuensi, yaitu penggunaannya harus sesuai dengan peraturan tradisi yang berlaku di sebuah wilayah atau suku bangsa. Hal ini mengakibatkan arsitektur tidak memiliki kesempatan untuk berkembang dan arsitektur hanya menjadi romantisme masa lalu. Arsitektur tradisional adalah obyek studi bagi domain sejarah maupun antropologi karena mempelajari bagaimana manusia-manusia di sebuah wilayah atau suku bangsa berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara dalam domain arsitektur sendiri, yang dipelajari adalah seni bangunan termasuk dengan dasar-dasar pemikiran, estetika, juga kemungkinan pengembangan ide di masa depan dengan tetap berakar pada filosofi awal yang terdalam. Hal inilah yang melahirkan Arsitektur Nusantara. Arsitektur yang bertuan rumah di wilayah nusantara, dihidupkan oleh masyarakat nusantara dan menghidupi mereka dari waktu ke waktu.

Lebih lanjut bisa kita simak kutipan dari Josef Prijotomo dalam tulisannya Globalisasi dan Arsitektur Nusantara: Arsitektur Nusantara memang bukanlah arsitektur tradisional, walaupun keduanya menujuk pada sosok arsitektur yang sama yakni arsitektur yang ditumbuhkembangkan oleh demikian banyak anak bangsa atau suku bangsa di Indonesia ini. Arsitektur Nusantara dibangun sebagai sebuah pengetahuan yang dilandaskan dan dipangkalkan dari filsafat, ilmu dan pengetahuan arsitektur.

Arsitektur Nusantara sebagai Ilmu Pengetahuan
Dengan terbukanya pintu gerbang eksplorasi bagi arsitektur nusantara, maka semakin banyak hal yang bisa digali darinya, juga semakin banyak arsitek yang diundang untuk semakin mengenalnya. Arsitektur nusantarapun terbuka sebagai ilmu pengetahuan yang akan selalu digali dan dikembangkan sehingga nantinya bisa diaplikasikan langsung ke dalam perancangan dan kehadirannya bisa dirasakan oleh masyarakat. “Arsitektur sebagai ilmu pengetahuan tidak lagi berada dalam paras hafalan yang setiap dilafalkan kembali; arsitektur lalu menjadi pertanyaan dan tantangan yang selalu menunggu jawaban dan tanggapan”, begitu kata Josef Prijotomo.

Arsitektur Nusantara sebagai Simbol Kosmologis
Kekhasan bentuk dan tatanan di masing-masing wilayah arsitektur nusantara bukanlah tanpa dasar tanpa makna, melainkan berasal dari perkembangan pemikiran manusia yang hidup di tengah-tengah alam. Arsitektur Nusantara sendiri awalnya adalah arsitektur pernaungan, yaitu untuk menaungi masyarakat dari panas dan hujan, selain itu juga untuk menjaga api. Sementara menurut Romo Mangun, wujud bangunan memiliki beberapa citra dasar yang selalu kembali dalam berbagai macam bentuk, misalnya bentukan gunung yang muncul pada candi-candi di Jawa dan pintu-pintu gerbang di Bali. Juga bentuk pohon, stupa, pagoda atau poros pokok Pusat Dunia masih mendapat pengungkapannya dala m bentuk bait-bait, kuil-kuil keramat ataupun istana dan kota-kota suci . Arsitektur Nusantara sendiri adalah simbol dari upaya masyarakat untuk bisa survive di tengah alam tempatnya berada dengan ciri-ciri kosmiknya. Hal ini juga yang menyebabkan Arsitektur Nusantara terbuka bagi perkembangan teknologi sebagai upayanya untuk menyatu dengan kosmologi alam semesta.

Perkenalan: Sebuah Awal
Perkenalan adalah awal dari interaksi lebih lanjut dengan Arsitektur Nusantara. Sebagaimana disebutkan di atas, pintu untuk mengeksplorasi, mempertanyakan, menggali, dan mengutak-atik Arsitektur Nusantara telah terbuka lebar. Tentu saja semua diawali dari pemahaman yang mendalam tentang makna dari Arsitektur Nusantara itu sendiri sebelum berkembang ke dalam aplikasi bahkan globalisasi. Ya, terbuka lebar kesempatan untuk mengglobalkan Arsitektur Nusantara di lingkup yang lebih luas dan bukan hanya arsitekur luar yang menjamur di wilayah nusantara. Namun itu semua dibebaskan pada pilihan masing-masing. Baik peneliti maupun arsitek memiliki kesempatan yang luas dalam berinteraksi dengan Arsitektur Nusantara pasca perkenalan.

“Do not go where the path may lead,
Go instead where there is no path and leave a trail”

(Ralph Waldo Emerson)


Bacaan
Prijotomo, Josef. Arsitektur Nusantara: Menuju Keniscayaan
Mangunwijaya, YB. Wastu Citra
Dinapradipta, Asri. Materi Kuliah Arsitektur Nusantara Program Pascasarjana Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya

Kamakura House: Geometri dan Kreativitas dalam Arsitektur

A square is that square and no other
A circle is that circle and no other
A rectangle is the particular rectangle derived through the relationships of its sides


Geometri dan Arsitektur
Garis dan bidang dapat dideskripsikan dengan dua cara, yaitu melalui cara matematik dan melalui bentuk geometrik. Melalui cara matematik, bentuk, garis dan bidang terbentuk melalui sistem koordinat, sehingga untuk membuat bentuk tertentu, dimerlukan rumus-rumus dan hasil yang 100% tepat. Bentuk, garis dan bidang juga dapat terwujud tanpa melalui rumus-rumus eksak matematika, yaitu dengan menggunakan instrumen-instrumen geometri yang sudah ada. Kita tidak memerlukan hitungan yang 100% tepat untuk mengetahui bentukan bola atau lingkaran. Begitu juga dengan kubus, balok dan persegi panjang.


Geometric Form

Dengan adanya bentuk-bentuk geometri kita dapat:
 Menyusun bentukan-bentukan geometris dengan mudah
 Mendeskripsikan bentuk secara tepat
 Semua orang bisa menikmati bentuk-bentuk geometris yang mutlak dan sempurna
 Memberi kita bentuk-bentuk yang siap untuk digunakan dan bisa diolah sedemikian rupa dengan bermacam-macam cara

Bentuk geometri terdiri dari dua jenis, yaitu bentuk geometri yang telah terdefiniskan dan bentuk geometri bebas. Bentuk geometri bebas adalah bentuk-bentuk yang dibuat secara bebas, bisa dengan mengutak-atik bentuk yang sudah ada atau bisa juga dengan membuat bentukan baru yang belum terdefinisikan sebelumnya.

Photobucket


Bentuk-bentuk geometri sendiri digunakan sebagai instrumen dalam merancang sebuah karya arsitektur. Dengan bentuk-bentuk geometri sebagai instrumen untuk merancang, arsitek memiliki alat untuk menyampaikan pesan yang hendak disampaikannya melalui karya-karya arsitektur. Salah satu karya arsitektur yang dibahas di sini adalah Kamakura House yang dirancang oleh Foster and Partners Consultant.


Geometric

Kamakura House dan Bentuk Geometri
Kamakura House berada di kota kecil, satu jam ke arah selatan dari Tokyo. Bangunan ini berada di lingkungan yang kaya akan bangunan-bangunan bersejarah. Di antaranya terdapat reruntuhan kuil Shinto. Selain itu juga terdapat tempat pembuatan pedang Samurai pada abad ke-11. Di sekitar site tempat Kamakura House berdiri terdapat hutan dan jurang, sebuah kondisi alam yang masih asli dan natural. Kamakura House dirancang untuk kolektor Buddhism art. Bangunan ini digunakan sebagai tempat retreat (tempat untuk menyepi). Rumah ini terdiri atas paviliun memanjang, ruang besar multi fungsi, dan tempat tinggal. Kamakura House merupakan perwujudan dari aransemen bentukan geometri garis lurus, bidang persegi dan balok.

Geometric


Arsiteknya menyatakan desain bangunan ini didasarkan atas kepercayaan orang Jepang, yaitu penyatuan antara alam dengan bangunan buatan manusia akan melahirkan keindahan. Di sini penyatuan dengan alam diwujudkan pada olahan bentukan geometri yang berkesan simple dan unite. Kesederhanaan diwujudkan melalui susunan bentuk-bentuk geometri yang berkesan simple berupa bidang persegi dan balok. Selain mudah dikenal, bentuk persegi dan balok memiliki kesan yang sederhana dan lugas. Karakter sudutnya yang tegak lurus mudah disatukan membentuk karakter yang unite.

Front View

Kuil

Transition



Interior Kamakura House
Penggunaan bentuk geometri bidang persegi dan balok juga diterapkan pada interior Kamakura House. Berikut ini adalah interior living room:
Living Room

Buddha


Pada interior lorong menuju Sang Buddha, lantai dari kayu menghasilkan bidang persegi dan garis antar bidang. Plafon menggunakan konfigurasi garis horizontal kiri-kanan menyatu dengan pola lantai. Dinding keramik cetak juga menghasilkan bidang garis dan bidang persegi yang berkarakter masif serta tegas. Dengan tambahan lampu menghasilkan kesan cahaya-cahaya kecil sebagai penerang perjalanan menuju Sumber Cahaya; Yang Tercerahkan (Buddha). Background dari patung Buddha juga merupakan olahan geometri berupa bidang memanjang dan garis antar bidang. Semuanya berpadu mewujudkan suasana yang tenang dan berkarakter, baik selama perjalanan maupun ketika telah mencapai pencerahan. Ketenangan mewujud pada komposisi bidang geometri garis lurus yang saling tegak lurus dan bidang persegi pada interior lorong tersebut.

Geometri dan Kreativitas
Bentukan-bentukan geometri dengan karakter dan "rasa" yang dimilikinya merupakan instrumen yang berharga bagi arsitek dalam merancang sebuah karya arsitektur. Olahan-olahan geometri yang dirancang oleh arsitek dapat mewakili pesan yang ingin disampaikannya. Bentuk dam karakter geometri adalah anugrah alam sehingga memungkinkan bagi arsitek untuk mendapat inspirasi darinya. Sumber ide ada di manapun kita berada.


Bacaan
Antoniades, Anthony. C. Poetics of Architecture. Van Nostrand Reinhold, New York,1992
www.fosterandpartners.com



Search Engine Submission & Optimization
 
AddMe - Search Engine Optimization